Ketika AI Capai Akhir Karirnya


Dari bermacam DVD NBA yang dimiliki, Allen Iverson: The Answer adalah favorit saya. Film dokumenter mengenai perjalanan karier Allen Iverson (AI) ini sebenarnya menarik. Selain itu, saya beranggap AI sebagai orang yang menarik dan unik. Dalam makna profesional, tidak tersedia yang dipecat kalau AI sangat mampu. Namun, sedikit yang membencinya, sering dicap egois. Sebelum musim ini diluncurkan, tidak tersedia tim NBA yang mengidamkan pemain yang kini berusia 35 tahun. Alhasil, AI secara mengejutkan menentukan Liga Bola Basket Turki untuk memperkuat Besiktas. Jika ini adalah akhir dari karirnya, itu sangat bukan akhir yang mulia. Mengapa tim NBA tidak bersedia mengakomodasi pemain sekaliber Iverson? Banyak orang mengira Iverson bukan pemain tim.

Ketika AI capai akhir karirnya, AI akan menerima peran yang tidak sebesar sebelumnya. Tapi Iverson tetap Iverson. “Aku tidak mengidamkan menempatkan bakatku di belakang siapa pun,” kata Iverson. Bermain di Turki dan beradu di Liga Eropa memahami bukan yang diinginkannya. Dia mengidamkan senantiasa di NBA hingga dia selesaikan karirnya. Agennya sudah berupaya keras untuk merayu tim NBA dan mengkonfirmasi apakah kliennya bersedia jadi pemain kelas dua. Tetapi seluruh orang menolak. “Ada banyak perihal yang tidak saya banggakan. Saya mengawali karir saya di NBA pada umur 21 tahun. Saya tidak mempunyai apa-apa di sepanjang hidup saya, jadi saya sanggup mempunyai sesuatu di dunia. Saya bersua banyak orang jahat dan orang baik mempunyai senantiasa memicu kesalahan, senantiasa bicara buruk, saya sudah memicu banyak kesalahan.

Dan saya mesti membayarnya, “katanya. Ya, di lingkaran bola basket, Iverson sangat sosok yang keras kepala di didalam atau di luar lapangan. Nokturnal, mabuk atau berjudi. Dalam perjudian, Iverson diakui sebagai kelas berat. Beberapa kasino Atlantic City lebih-lebih Iverson masuk daftar hitam, tetapi di pada banyak kekeliruan yang dilakukan, yang terbesar adalah dia tidak menerima batasannya. Ya, Iverson tidak ulang dikenal bersama kecepatannya. Dia senantiasa membiarkan peluang. “Ketika tersedia peluang untuk lakukan benar, Iverson senantiasa menentukan yang salah. “Saya jadi percaya bersama kapabilitas saya untuk bermain. Tidak sombong atau sombong, cuma duduk pada apa yang sanggup saya lakukan.

Saya ragu apakah saya mengidamkan bermain sebagai cadangan. Saya pikir bermain di belakang pemain tidak lebih baik dari saya. “” Aku belum dulu didalam keadaan seperti ini. Saya tidak dulu mengalami keadaan ini di kampus atau sekolah menengah. Saya seorang pesaing. Apa pun yang saya lakukan, saya akan senantiasa jadi yang pertama. Saya tidak dulu mencoba jadi nomor dua. “Ya, Iverson tidak akan jadi nomor dua. Itulah mengapa dia mengidamkan pindah ke Turki. Dia tidak lakukan perjalanan ke Turki untuk beroleh duit (dia menerima $ 4 juta di Turki sepanjang dua tahun), tetapi sebab dia akan tunjukkan bahwa dia tetap sanggup “Saya mengidamkan tunjukkan kepada seluruh orang bahwa saya sanggup bermain basket.” Hari ini, tim NBA tetap mengikuti evolusi Iverson, terhitung perilakunya, tentu saja. Jika Iverson sanggup membuat perubahan dan memahami apa bermakna jadi anggota dari memicu tim , bukan tidak bisa saja baginya untuk ulang dan mengakhiri karirnya sebagai pemain NBA, kalau tidak karir tidak benar satu pria kecil terhebat dari NBA di luar benua akan berakhir. Menurut berita terbaru, Iverson baru saja lakukan debut di Liga Bola Basket Turki, didalam debutnya Iverson mencetak 2 poin.Ya, raja poin cuma mencetak 2.

Salah satu pemain NBA legendaris, Allen Iverson, secara formal tunjukkan pengunduran dirinya pada Kamis (31/10). Selama karirnya di lapangan basket Amerika tertinggi, banyak perihal yang memicu mantan bintang Philadelphia 76ers ini susah dilupakan penggemar. Crossover untuk muka Michael Jordan. Ini adalah insiden yang memicu nama Allen Iverson dikenal. Dalam pertarungan melawan Chicago Bulls pada 12 Maret 1997, ia sukses melalui legenda hidup NBA, Michael Jordan, bersama gerakan crossover yang bagus. Iverson kemudian jadi sorotan. Dia mengakhiri pertandingan bersama mengambil 37 poin. Gerakan corssover Iverson mengambil korban lain. Kali ini giliran Tyronn Lue untuk merasakannya. Dalam duel pada Sixers dan LA Lakers di Final NBA 2001, Iverson memicu gerakan memutar yang memicu Lue tidak nyaman. Bukan cuma sekali, tetapi hingga empat kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *